CERITA SEBUTIR DEBU ( AKU )

19 Jun

Selalu kuberlenggok di rumpun ilalang,
merasakan hawa bumi memanas dalam kesejukan
ku lebih tak peduli  bilapun menyengat karena aku akan main sorok-sorokan
dan menghilangkan diri di helaian ilalang

Aku hanyalah sebutir debu di tengah sabana
tatkala hujan menyiram, aku akan sembunyi di dedaunan paling hijau
lalu pawana menggoyang. hingga aku beralun-alun mengikuti arah angin.

Bumi terus berputar, siang malam tiada penghujung
dan bila matahari kadang marah membakar dunia, aku kian merah membara
hinggap diberbagai rerumputan menadah embun yang selalu tak kujumpai di awal pagi.

Karena aku lupa kapan fajar terbit sebab pulas dalam gelungan malam ketika senja paling anggun mengibarkan pesonanya  aku turut bergulir membaur dalam keramaian dan larut terbuai gelimangan lampulampu malam hinggakan tak tahu kalau hampir jingga meng-abu melamur penglihatanku
juga  sering pula hilang mengelabuiku
sehingga aku ternanar di sudutsudut jalanan, menari-nari dan menempel di setiap kelebat keindahan.

Di manakah aku saat mata menyipit melihat cahaya benderang menghujam pupil, aku tertanya-tanya
selalu saja kepalaku menggeleng tak tahu
lemah langkahku berseteru menghindar dari siulan angin
namun baru kutersadar, saat hampir pupus aku ditujah banjir bandang dan kudapati diriku berkumpul dalam lumpur hitam bersama temanteman asing yang entah darimana asalnya
betapa aku ketakutan, lebih takut dari gelap malam tanpa rembulan. terasa sangat mengerikan, menghantui gerak-gerikku.

Sungguh ketakutan yang luar biasa dan tak ingin ku mengingat lagi. kupasrahkan nasib  diri mengikuti aliran air sesalanpun datang bertubi-tubi. kupandang langit semakin biru,
awan putih menguak memberi tempat pada sang surya dengan sentuhan warna kemilau biasan-biasan sinar yang keperakan membuatku gigil. kulihat wujud kuasa yang maha dan tanpa kusadari aku telah diterbangkan udara ke pucuk bakau.

Kuhela nafas panjang, kelegaan tergambar di romanku. deburan ombak yang bergulung-gulung berkejaran terasa menghibur jiwaku yang kalut dan aku lebih haru lagi bila kawankawan baru yang kujumpai di setiap permukaan daundaun bakau itu berebut menyalamiku. dan mereka mengajakku bercengkrama bersama memandang kecipak ikanikan karang yang berenang di sela-sela akarakar bakau  sambil terus menikmati setiap hempasan ombak. kadang berbasahan bersama-sama lantas menyimak kicauan merdu beburung bernyanyi menceritakan hikayat alam tersurat
serta merta aku terenyuh.

Sekali lagi kupandangi langit dengan bebayang yang sudah condong ke barat kujumpai lagi lembayung
namun kali ini ku takjub melihat dia raib bersalaman dengan kelam dan baru kutahu rupanya malam di antara kerlip gemintang dalam dekapan lembut rembulan. menawan

Aku tak lagi sepi, terlihat di sana sini kawankawan baruku terlelap tanpa beban. aku tersenyum, kurasakan badanku tersangat ringan, semuanya lepas, bebas seperti lautan tak bertepi
lalu kurasakan nikmat yang syahdu saat lidah mentari pagi menjilati. yang mana masih memerah di tepian segara
“inikah fajar..?” pekikku di hati kala kedua kelopak mataku membuka.

Aku bagaikan baru bangun dari mimpi yang sangat panjang
manakala di ujung daundaun bakau nan menghijau kutemui embunembun menetes, bersinar-sinar  ditimpa cahaya pagi
tak dapat kupungkiri tertegun debaranku dalam sukma terdalam
mataku berkaca-kaca sebab dahagaku langsai tika terpaku menatap beningbening embun tersebut.

Di mana selama ini aku tercari-cari. memburu waktu yang tak pernah habis
bahkan terperangkap pelbagai helah kemungkaran hingga  dalam beningnya embun pagi bersua apa yang kucari
tak dinyana berdetak atma teramat kencang satu tak terbilang, mengkristal indah berkilauan
tergamang badan rindu membulir; mengalir tak terasa
hingga aku tahu hanya padamulah jiwa raga kuserahkan yang memang sejatinya milikmu.

Engkaulah azimat baiduri yang telah tersemat di dalam kalbu. petitih saat gelap bukan malam pula terang bukan siang  kala jiwa bergelanggang di lengang kehidupan nan berpura di keramaian maka dalam jeda masa yang sebenar sunyi tiada bandingan cahayamu selalu benderang abadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: