Kampung Dari Rahim Laut

5 Sep

Umar tersentak dari lelap tidurnya. Nafasnya memburu, lidah dan kerongkongannya terasa kaku. Otaknya masih belum mampu berfikir. Tubuh dan wajahnya basah tergenang air. Saat tidur ia mencecap rasa asin yang tak biasa. Air merayap sampai ke semua lubang dalam tubuhnya. Memenuhi mulut dan hidung. Tapi ia benar-benar tak tahu air apa yang telah menggenangi tubuhnya, ranjangnya, sudut matanya.

Ketika itu, sebelum sadar betul akan apa yang telah berlaku, ia bermimpi tentang segala benda, segala nama dan segala wajah yang pernah dikenalnya terhisap cepat ke dalam pasir-pasir lautan, lalu jala-jala menyergapnya. Keramba, perahu, ikan-ikan tangkapan, lokan-lokan, batu-batu karang, bahkan lautan menimpa di atas tubuhnya. Menindih dan membuatnya tak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan mendesahkan istighfar paling rintih. Membuatnya seperti terhempas, kerongkongannya tersendak keras, dan ia terbangun dengan tubuh yang telah kuyup basah.

Seketika ia berdiri dari ranjang berdipan kayu randu yang umurnya sendiri lebih tua dari umur pemiliknya. Ranjang bergoyang, seakan hendak runtuh tak kuat menahan berat badan Umar dan polah paniknya. Di atas ranjang, Umar mengusap matanya yang lengket perih. menatap heran air yang telah menggenang sampai ke tempat tidurnya.

Kini barulah ia tersadar bahwa ini adalah air laut yang telah merayapi perlahan-lahan tepian kampung hampir sepuluh tahun ini dan membuat kampung halamannya hampir menjadi kampung mati. Dan sekarang air laut itu telah semakin tinggi. Menyusuri sudut-sudut rumah juga di setiap sudut-sudut tubuhnya. Membuatnya hampir tenggelam dalam tidur, dalam hisapan mimpi yang menyesakkan paru-paru.

 “Air pasang? Sialan!” gerutunya sembari meloncat turun, berjalan pelan tertahan, menyusuri genangan air beraroma garam, menuju pintu dan keluar kamar.

Seisi rumah sudah penuh dengan air. Terdengar suara “tuk..tuk..tuk..tuk..” tak beraturan. Suara benda yang saling terantuk. Sekilas tatapannya menatap panci yang bergerak terapung menabrak dinding. Meja kursi yang tenggelam dilumat genangan. Rak yang karam, piring gelas tenggelam dan lemari kecil tampak tertegun dalam gigil di sudut ruangan.

Tapi kini Umar sudah tak perduli pada apa yang ada di dalam rumahnya. Pikirannya memburu ke luar. Di kaca jendela tampak rimbunan daun-daun bakau juga langit menunjuk rembang.

Sampai di pintu rumah, kembali Umar merasa dijangkiti keheranan. Sesore ini ia merasa disergap rasa asing pada kampung halamannya sendiri. Ia tak lagi melihat halaman berpasir, gunungan jala di dekat tiang penjemur, barisan ikan teri yang dikeringkan, lentik kaki-kaki kepiting atau geliat ular yang meliuk di akar-akar bakau yang kokoh. Bahkan tak ada sesiapapun, tak ada para tetangga yang sekaligus saudara sedarah kakek moyangnya.

Rumah-rumah lain tampak begitu mati, tak ada Romli dengan suara meledak-ledak karena hasil laut sepi tak ada tangkapan ikan. Tak ada wajah Suyud yang kaku dengan gulungan jala di punggungnya, tak ada bibir kering Lek Marto dengan lintingan rokok dan kepul asap yang tebal. Bahkan tak ia lihat lagi paras ayu Pratiwi anak semata wayang Lek Marto yang telah dilamar dan akan dinikahinya pada beberapa bulan ke depan. Terlebih lagi tak ada pula tubuh lapuk Mbah Syam, kakek dan satu-satunya keluarga yang ia miliki sejak air laut mulai melahap separuh kampung sepuluh tahun terakhir ini karena hampir semua warga kampung termasuk bapak dan emaknya tak sudi lagi menempati kampung nelayan yang hampir tenggelam. Hanya Umar, Mbah Syam dan tujuh keluarga yang masih bertahan.

Tak ada lagi wajah sesiapapun yang kerap bergumul di halaman sesore ini dalam percakapan kecil orang-orang kampung nelayan. Hanya genangan air juga suara parau berisik burung-burung kuntul yang tampak tak tenang.

“Sudah tak ada siapa-siapa?!” batinnya

Kampung laut ini tampak seperti beberapa deret bangunan pasir yang luruh di tengah air, siap runtuh. Kini di pandanginya laut tepat di sebelah rumahnya. Ditatapnya sangat jauh, genangan air tak berombak dan langit batas segala pandangan. Matahari senja yang matang dan semakin pasi, aroma kehangatan yang selalu ia resapi kini melesap cepat di tubuhnya.

Wajahnya merasakan kehangatan senja, menggetarkan. Tapi matanya terlampau dingin, tubuhnya kaku dalam gigil. Ia merasakan dingin yang tak pernah sekalipun ia rasakan, merayapi telapak kakinya, menjalar sampai ke tulang punggungnya. Di matanya langit dan genangan air itu menunjukkan warna yang sama. Biru pucat, sepucat bibirnya saat ini.

“Inikah jawaban mimpiku Gusti?
Inikah Lanina?”

************

Hari penghabisan. Ini bukan lanina. Bukan. Tak ada yang terhempas, tak ada yang roboh. Hanya detak di jantung kami yang seperti terhempas dan roboh. Air tiba-tiba naik dalam beberapa jam. Dari setinggi telapak kaki kini sudah lebih dari sepinggang. Dan mereka yang bertahan benar-benar harus pergi karena sudah tak ada lagi yang dipertahankan.

Tapi aku tak melihat Umar, cucuku. Romli dan Suyud mencarinya di rumah. Tak ada siapa-siapa kata mereka. Aneh sekali. Padahal beberapa menit sebelum aku ke makam simbah, aku melihat Umar tampak pulas di kamarnya dan beberapa menit setelahnya air tiba-tiba meninggi sampai sekarang ini.

Tapi tak ada siapa-siapa? Tak ada Umar bahkan tak tercium aroma tubuhnya yang lebih garam ketimbang bau tubuh bapaknya, anakku sendiri. Di sudut kampung belantara hutan bakau juga tak ada. Bau tubuh bocah yang lahir dari rahim laut itupun bahkan tak tercium olehku.

Apa Umar benar-benar telah pergi sebelum air ini meninggi? Tidak mungkin Umar pergi dari kampung ini. Atau mungkin pasir dari tanah keramat ini telah menyembunyikannya? Mengajak Umar tenggelam sebagai tumbal berakhirnya sebuah kekeramatan?

Tidak, ia masih ada di sini. Aku tahu itu. Dia generasi terakhir Simbah Mudzakir, maka patut jika dia harus bersaksi atas kejadian ini. Ia yang kugadang-gadang menggantikanku menjadi juru kunci setelah bapaknya yang anak tunggalku sendiri dan orang-orang lain di kampung ini berbondong-bondong pergi sejak kampung mulai digenangi air laut.

Ketakutan mereka pada lanina, lantaran wasiat terakhir dari simbah mudzakir, leluhur sekaligus pendiri kampung Tambak Sari ini. Kampung yang terlahir dari rahim laut sebagai berkah Allah azza wa jalla juga sebagai bukti kekaromahan simbah sebagai Waliyullah. Aku masih ingat pesan beliau yang diceritakan bapak seperti dongeng masa kanak-kanak juga saat aku menggantikan bapak sebagai juru kunci makam simbah sekaligus kemudian diangkat menjadi tetua kampung laut ini.

“Dalam satu abad harus ada yang pergi dan menghilang. Satu abad Gusti Allah mengirim kaum yang menyeru pada kebenaran untuk datang dan menggantikan yang telah hilang. Dan kampung ini, seabad kelak akan pula kembali, tenggelam ke rahimnya yang tua saat tak ada lagi kebenaran di sini. Maka jagalah kampung ini baik-baik, orang-orang kampung Tambak Sari banyaklah mengaji, mencari ilmu yang manfaat dan tegakkanlah kebenaran Allah di tanah ini, atau Allah akan mengirim lanina untuk menghempaskan tanah ini dengan cepat. Memporak-porandakan apa yang telah kalian bangun.”

Maka kujaga tanah ini seperti wasiat beliau. Seperti kampung ini, kami juga lahir dari laut. Keringat kami saat mencari ikan di tengah padang air dan air mata yang tumpah saat kembali menyerah pada setiap ketetapan hidup, sama asinnya dengan air laut ini. Karena itu aku takkan meninggalkan tanah ini sejengkalpun. Tanah dan laut ini adalah rumah sebenarnya bagiku, bagi kami yang masih bertahan.

Kulihat wajah kalut orang-orang juga Pratiwi yang meringkuk terapung-apung di atas perahu, air matanya melebur bersama air laut.

“Umar masih hidup, nduk. Ia akan kembali dan segera menikahimu. Kamu tenang saja, ya?”
“Pergilah kalian semua. Selamatkan hidup dan apapun yang bisa kalian bawa. Pergilah ke rumah saudara-saudara kita yang telah lebih dulu mengungsi. Katakan bahwa kampung ini telah kembali ke rahimnya.”
“Tapi aku akan masih tetap di sini. Tanah makam ini masih menyisakan kubah makam simbah untuk sekedar berdiri. Aku akan menunggu Umar, dia pasti akan menjemputku di sini. Jika harus pergi, maka aku dan cucukulah yang akan terakhir pergi.”

Maka, hari ini aku harus rela untuk sendiri. Sejak siang tadi air laut dengan sangat cepat menjadi tinggi dan semakin meninggi. Kini kampung ini benar-benar tenggelam, air telah memenuhi setiap sudut kampung, memasuki pekarangan dan rumah-rumah. Menghapus jejak-jejak sejarah dan makam simbah telah benar-benar hilang.

Di atas kubah inilah aku berdiri dan tepat di bawahku makam simbahku sendiri, Syeh Abdullah Mudzakkir sang waliyullah yang dengan kekaromahannya telah menggagalkan serangan tentara Jepang bersenjata senapan dan meriam seorang diri, yang membangun kampung ini dan mendidik kami para warisnya untuk mengenal rasa asin hidup seperti asin laut yang melahirkan kampung ini.

 “Apa mungkin kekaromahan simbah sudah hilang? Lalu kampung ini perlahan-lahan menjadi tenggelam.”

Air meninggi sedang tak ada ombak sedikitpun yang menghantam. Tanpa arus dan benar-benar tenang. Ini bukan lanina. Tapi kekeramatan apapun akan tetap tak berlaku bagi ketetapan yang harus terjadi. Ini takdir kampung ini dan aku memilih takdirku tetap disini.

Masih ada kubah makam tempatku berdiri. Dan aku tak perduli sekarang, aku akan tetap di sini. Sekalipun tak ada orang lagi. Aku akan tetap di sini sampai tak ada lagi yang disisakan.

***********

Wajah kakek menyergapku sekarang. Aku harus ke makam. Maka segera kunaiki perahu yang terapung-apung di pekarangan. Kukibas leher dayung, bergerak  menuju makam, menuju satu-satunya sepetak tanah yang takkan rela kakek tinggalkan bahkan jika laut ini terbakar.

Yang dulu jalan-jalan setapak berpasir kini kulewati dengan menumpangi perahu, asing sekali rasanya mengenali jejak kampungku sendiri. Harusnya laut jauh di depan itu ranahku berperahu, tidak jalan kampung ini, jalan menuju makam moyang kami. Dan di ujung sana, yang seharusnya area makam kini benar-benar menjadi kuburan laut.

Aku tak melihat apapun di sana selain hanya laut dan runcing kubah makam simbah Mudzakir tampak seperti tombak yang muncul dari dasar lautan. Tapi, semakin dekat tak kutemui apa-apa selain hanya runcing kubah itu dan tak benda lain yang tampak, benda yang menyerupai sebatang tubuh manusia.

 “Tak ada siapa-siapa? Apa mungkin simbah tenggelam?” bisikku entah kepada siapa.

Maka segera saja lepaskan tubuhku pada gumulan air. Sampai di dasar hanya ada nisan-nisan beberapa kerabatku yang telah lebih dulu meninggal, juga terlihat batu nisan Mbah Mudzakir yang kokoh, tiang-tiang penyangga kubah, dan keruh pasir betebaran dalam air membuat pandangan mataku menjadi samar.

Kemampuanku sebagai seorang nelayan membuatku cukup bisa melihat di kedalaman lautan dengan agak lama. Tapi sejauh ini tak ada apa-apa selain hanya benda-benda mati. Kuburan memang menjadi ranah yang tepat bagi segala yang mati. Tapi masih juga tak juga kudapati tubuh kakek.

Aku kembali naik ke atas perahu. Terasa gigil juga ngilu di sekitar ulu hatiku saat kusadari simbah sudah benar-benar tak ada. Mataku memerah perih entah karena apa, entah karena saat menyelam tadi air laut kurasa lebih asin dari biasanya atau air mata seorang bocah yang kehilangan doa. Doaku saat ini hanya agar bisa kutemukan simbah, dan senyatanya, doa itu sia-sia.

Kini hanya mampu kutatap nanar runcing kubah itu. Barisan gelombang cukup besar menghempas tubuh perahu. Mengegerakkanya perlahan menjauhi runcing kubah dan area makam leluhurku. Hanya aku tanpa kakek, tanpa sesiapapun.

“Aku tak ingin pergi.
Aku tak bisa pergi.”

***********

Di sini, di runcing kubah yang kupegang erat inilah satu-satunya tempatku dapat berdiri. Air telah setinggi dada hanya dalam beberapa jam. Angin laut semakin santer, mencipta gelombang-gelombang air dan menghempaskannya di batu-batu karang, tak terkecuali juga terhempas keras di kubah makam ini. Sesekali kutelan air laut yang melesap sampai ke bibirku. Kepalaku menengok gelombang air yang bergerak cukup kencang ke arah kubah tempatku berdiri. Saat itu, entah kenapa aku yakin Umar sudah ada di sini, aku mencium bau tubuhnya yang berbau laut, bau tubuh manusia yang bercampur aroma laut dan aku serasa memandanginya sekarang, sekalipun tak ada apa-apa. Hanya hamparan air yang membentang sangat luas dan jauh.

“Apakah kau telah datang Umar?”

Entah kenapa aku tak bisa melihat dan memilikimu kembali. Aku tahu, keganjilan telah bersekutu dengan laut. Mencipta tabir halus yang menutup pandangan kita. Dan disaat seperti inilah entah aku ataupun kau Umar, kita sama-sama tak bisa berdusta. Kita jadi harus terlibat pada gaib. Kegaiban telah menjalin tubuh kita menjadi bagian dari dirinya. Maka hanya dapat kusepakati apapun itu, karena aku tahu semua ini kehendakMu, Gusti.

“Jika kau ada di sini, Umar. Pergilah. Segeralah menepi. Pergi dari sini. Carilah tepian pantai dan buatlah kampung baru di sana. Tanamkan ajaran kebenaran kepada anak-anakmu di sana, seperti ajaran yang diajarkan moyangmu Mbah Mudzakir. Cukup aku yang bertahan di runcing kubah makam ini.”

Angin kembali melesap cepat, menampar mukaku beberapa kali dan di tubuh laut itu kulihat beberapa barisan gelombang telah tercipta.

Kini, di ujung laut dan langit yang saling jalin-menjalin itu, kembali kutambatkan tatapanku. Laut dan langit menunjuk warna yang sama. Biru pucat. Sepucat bibirku yang tak mampu lagi mengucap apa-apa. Sesaat warna biru keduanya memudar, larut, semakin benderang, aku terlampau silau dalam kilatan cahaya.

Sesaat, sesuatu yang basah menghempas mukaku, menarik tubuhku jauh ke dasar rahim yang tua. Lidahku mencecap rasa asin yang tak biasa. Rasa asin air laut yang tercampur air mata. Dan lewat batin yang terjaga, tetap waspada, aku tak putus-putus mengingatMu. Mengenali lagi namaMu, seiringan dengan detak jantungku yang berdetak semakin lambat.
“Allah…Allah…Allah…Allah…Allah………”.

Semarang, 06 Juli 2010 – 20 November 2010

* Cerpen ini masuk dalam nominator cerpen mahasiswa Se-Indonesia yg dibukukan dalam buku kumpulan cerpen “Lelaki yang di Beli”

2 Tanggapan to “Kampung Dari Rahim Laut”

  1. Iskaruji dot com September 7, 2011 pada 6:44 am #

    Cerpen yang menarik Sob…Cerita tentang pasang jadi ingat masa kecil gue waktu di kampung…hehe. Nice post and happy blogging!

  2. Rangga September 7, 2011 pada 9:06 am #

    hehe😀
    ane kalo ke kampung jarang kang😀
    soalnya keluarga besar pada ngikut smw . .
    thanks comments nya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: